Senin, 05 November 2012

KOMPLIKASI DAN PENYAKITDALAM MASA NIFAS


KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS

Dosen Pengampu : Dessy Marita Cristanti, S.S.T



Disusun Oleh  :

1.      Anisa latiful .C               (0410001)
2.      Arlinda Iza .ZM             (0410002)
3.      Auliya Rahmi                 (0410003)
4.      Ayu Diatmike                 (0410004)
5.      Ayu Sanditya                  (0410005)
6.      Ayuk Aulia .A                (0410006)
7.      Desi Pramita .P               (0410007)
8.      Diah Arfianti                  (0410008)
9.      Diah Ayu .PS                  (0410009)
10.  Sri Hartati                      (0410056)
11.  Sri Kustiti                        (0410057)
12.  Sutiah                              (0410059)
13.  Tri Lestari                       (0410060)
14.  Tri Setyowati                  (0410061)
15.  Wahyu Fitri .W              (0410062)
16.  Yanis vicky .T                 (0410063)
17.  Yuni Setyo.W                 (0410065)
18.  Yolanda                           ()
19.  Nur Anisa .M                  ()         





AKADEMI KEBIDANAN AR-RUM SALATIGA
Jl. Pondok Joko Tingkir Lor No.5 Salatiga
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat allah SWT karna dengan rahmat dan karunianyalah kami dapat menyusun tugas makalah yang berjudul tentang “komplikasi dan penyakit dalam masa nifas” ini dapat diselesaikan secara baik dan tepat pada waktunya.
Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dalam penyusunan tugas makalah ini, semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang “komplikasi dan penyakit dalam masa nifas”.
Makalah ini tidak lepas dari kekurangan sehingga memerlukan saran dan kritik untuk kesempurnaan.

Salatiga, 8 Oktober 2012

Penyusun,



















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I.     PENDAHULUAN
          A.  Latar Belakang........................................................................................ 1
          B.  Tujuan...................................................................................................... 2
                 1. Tujuan Umum...................................................................................... 2
                 2. Tujuan Khusus..................................................................................... 2
BAB II    ISI
A.   

BAB III   PENUTUP
          A.   Kesimpulan.............................................................................................. 9
          B.   Saran ....................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHAULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Di Indonesia saat ini banyak sekali kematian ibu yang terjadi pada masa nifas. Oleh karena itu seorang bidan dituntut untuk menguasai pengetahuan dan tehnologi supaya bidan dapat mendeteksi secara dini adanya komplikasi pada masa nifas, disamping itu seorang bidan juga harus mengaplikasikan teori-teori yang dimilikinya ke dalam tindakan klinis secara tepat dan cepat. Bidan juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat karena bidan merupakan tenaga kesehatan yang profesional.
Infeksi nifas pada awalnya adalah penyebab kematian maternal yang paling banyak, namun dengan kemajuan ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi nifas, pencegahan dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat diminimalisir terjdinya infeksi nifas.
Dari itulah seorang bidan perlu mengetahui tentang infeksi nifas, mulai dari apa itu infeksi nifas,bagaimana penyebab terjadinya infeksinya,pencegahanya dan pegobatan dari infeksi nifas tersebut. Hal ini ditujukan untuk terwujudnya persalinan yang aman asuhan nifas yang higienis sehingga komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi.

B.     TUJUAN
1.      Tujuan umum
Agar mahasiswa mengetahui tentang komplikasi dan penyakit dalam masa nifas.
2.      Tujuan khusus
a.       Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang komplikasi dan penyakit dalam masa nifas
b.      Agar mahasiswa mamapu menjelasakan tentang komplikasi dan penyakit dalam masanifas
c.       Untuk dapat mengetahui infeksi nifas.
d.      Untuk dapat mengetahui kelainan dan penyakit lain dalam nifas.
e.       Memberikan pengetahuan tentang infeksi nifas.
f.       Memberikan pengetahuan tentang kelainan dan penyakit dalam nifas.

BAB II
PEMBAHASAN

KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS
  1. DEFINISI
Infeksi nifas mencakup semua peradangan yg disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-genital genital pd wktu persalinan dan nifas.
Demam dalam nifas sering disebabkan infeksi nifas, ditandai dengan suhu 38 ºC yg terjadi selama 2 hari berturut-turut.
 Kuman-kuman penyebab infeksi dapat berasal dari eksogen atau endogen, kuman-kumannyanya seperti streptococcus, bacil coli, staphylococcus.

  1. FAKTOR PREDISPOSISI
1.      Perdarahan
2.      Trauma persalinan
3.      Partus lama
4.      Retensio plasenta
5.      KU ibu (anemia dan malnutrition)
  1. PATOLOGI
Patologi infeksi nifas sama dgn infeksi luka. Infeksi itu dapat:
1.      Terbatas pada lukanya (infeksi luka perineum, vagina, serviks atau endometrium)
2.      Infeksi itu menjalar dari luka ke jaringan sekitarnya (thrombophlebitis, parametritis, salpingitis, peritonitis)
  1. MACAM-MACAM INFEKSI NIFAS :
1.      Endometritis
Merupakan jenis infeksi yg paling sering, kuman-kuman memasuki endometrium biasanya pd luka bekas insersio plasenta & dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.
Pada batas antara daerah yg meradang & daerah sehat trdapat lapisan terdiri atas leukosit. Leukosit akn membuat pagar pertahanan & disamping itu akan keluar serum yg mengandung zat anti.
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokeometra.
 Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suhu. Pada endometritis yg tdk meluas, penderita pd hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, milai hari ke-3 suhunya meningkat, nadi cepat, namun dalam kurun waktu 1 mggu keadaan akan menjadi normal.
2.      Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe di dlm uterus langsung mencapai peritonium shg menyebabkan peritonitis.
Peritonitis yg hanya terbatas pd daerah pelvis, gejalanya tidak seberat pd peritonitis umum.
Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Sedangkan pd peritonitis umum suhu meningkat mjd tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri. Muka mejadi pucat, mata cekung dan kulit muka dingin.
a.       Penanganan:
1)      Lakukan nasogastric suction
2)       Berikan infus (NaCl atau RL)
3)       Berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam:
4)      Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamicin 5 mg/kgBB IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500mg IV setiap 8 jam.
5)      Laparotomi diperlukan untuk pembersihan perut (peritoneal lavage)
3.      Bendungan Asi
a.      Definisi
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada putting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.
b.      Patologi
    Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain :
1)      Faktor hormon
2)      Hisapan bayi
3)      Pengosongan payudara
4)       Cara menyusui
5)      Faktor gizi
6)      Kelainan pada puting susu
c.       Patofisiologi
1)      Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.
2)      ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata.
3)      ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).
d.      Penatalaksanaan
Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
1)      Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
2)      Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
3)      Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
4)      Perawatan payudara pasca persalinan
Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
1)      Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
2)      Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
3)      Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
4)      Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
5)      Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)
4.      Infeksi Payudara
a.      Definisi
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada primipara. Tanda-tanda adanya infeksi adalah rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu dan tidak ada nafsu makan. Penyebab infeksi adalah staphilococcus aureus. Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan bisa terjadi abses.
b.      Berdasarkan tempatnya infeksi dibedakan menjadi :
1)      Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae.
2)      Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.
3)      Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.
c.       Pencegahan
Perawatan putting susu pada laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan putting susu dengan minyak baby oil sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu juga memberi pertolongan kepada ibu menyusui bayinya harus bebas infeksi dengan stafilococus. Bila ada luka atau retak pada putting sebaiknya bayi jangan menyusu pada mammae yang bersangkutan, dan air susu dapat dikeluarkan dengan pijitan.
d.      Pengobatan
Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan pengobatan sebagai berikut :
a.       Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
b.      Sangga payudara
c.       Kompres dingin
d.      Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
e.       Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ketengah abses, agar nanah bisa keluar. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus. Atau jika terdapat masa padat, mengeras dibawah kulit yang kemerahan :
a.       Berikan antibiotik kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
b.      Drain abses :
1.      Anestesi umum dianjurkan
2.      Lakukan insisi radial dari batas puting ke lateral untuk menghindari cidera atau duktus
3.      Gunakan sarung tangan steril
4.      Tampon longgar dengan kasa
5.      Lepaskan tampon 24 jam ganti dengan tampon kecil
c.       Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya
d.      Yakinkan ibu tetap menggunakan kutang
e.       Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
f.       Evaluasi 3 hari
5.      Thrombophlebitis
      Penjalaran infeksi melalui vena. Sering terjadi dan menyebabkan kematian. Dua golongan vena yg memegang peranan yaitu:
a.       Vena-vena dinding rahim lig. Latum (vena ovarica, vena uterina, dan vena hipogastrika) atau disebut tromboplebitis pelvic.
b.      Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea, dan saphena) atau disebut tromboplebitis femoralis
1)      Tromboplebitis pelvic
-          Yg paling sering meradang adalah vena ovarica, karena pd vena ini mengalirkan darah dr luka bekas plasenta.
-          Penjalarannya yaitu dr vena ovarica kiri ke vena renalis, vena ovarica kanan ke cava inferior
2)      Tromboplebitis femoralis
-          Dari trombophelebitis vena saphena magna atau peradangan vena femoralis sendiri
-          Penjalaran thrombophebitis vena terin
-          Akibat parametritis : thrombophlebitis pd vena femoralis mgkn tjd krn aliran darah lambat didaerah lipat paha krn vena tertekan lig.inguinale.
-          Thrombophlebitis femoralis tjd oedem tungkai yg mulai pd jari kaki dan naik ke kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya 1 kaki yg bengkak tapi kadagn keduanya.
-          Penyakit ini dikenal dgn nama phlegmasia alba dolens (radang yg putih & nyeri).
6.      Luka Perinium
a.                 Definisi
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindari atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arcus pubis lebih kecil daripada biasanya sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang dan biasanya, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum frensia suboksipito-bregmatika.
b.                Perlukaan pada perineum dapat dibagi dalam beberapa tingkat yaitu :
·         Tingkat I
      Pada tingkat I ini perlukaan perineum hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit perineum.
                                                                                                                                                 
·         Tingkat II
6.      Pada tingkat II perlukaan yang lebih dalam dan luas ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma urogenital.
7.      • Tingkat III
Pada tingkat III perlukaan yang lebih luas dan lebih dalam yang menyebabkan muskulus spingter ani ekternum terputus di depan.
a.    Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
1. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan. (Hamilton, 2002).
2. Episotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu :
1. Episiotomi medial
2. Episiotomi mediolateral
Sedangkan rupture meliputi
1. Tuberositas ischii
2. Arteri pudenda interna
3. Arteri rektalis inferior
http://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/pp.jpg?w=300&h=259
Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi

c. Penatalaksanaan
      1. Persiapan
a. Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangannya
b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
d. Berkemih dan BAB ke toilet
e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
f. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
g. Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h. Cuci kembali tangan
3. Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
a. Perineum tidak lembab
b. Posisi pembalut tepat
c. Ibu merasa nyaman


BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
     Infeksi nifas mencakup semua peradangan yg disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-genital genital pd wktu persalinan dan nifas.
     Demam dalam nifas sering disebabkan infeksi nifas, ditandai dengan suhu 38 ºC yg terjadi selama 2 hari berturut-turut.
                        Kuman-kuman penyebab infeksi dapat berasal dari eksogen atau endogen, kuman-kumannyanya seperti streptococcus, bacil coli, staphylococcus.

B.SARAN
1.      BagiMahasiswa
            Diharapkan mahasiswa mampu memahami, komplikasi dan penyakit pada masa nifas         serta dapat menambah wawasan baru dalam meningkatkan asuhan kebidanan patologi.
2.      Bagi Institusi
            Diharapkan agar dapat sebagai bahan mata kuliah asuhan kebidanan patologi dan sumber materi sebagai pengembang ilmu kebidanan












DAFTAR PUSTAKA

Mochtar , Rustam:  Sinobsis Obstetri Fisiologi, Obstettri Patologi, Jakarta: EGC, 1988
http://choiriatu.blogspot.com/2012/03/prinsip-deteksi-dini-terhadap-kelainan.html



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar